Skip to main content

Ketakutan? Jangan (buru-buru) Move On!

Oleh Andri Azis Putra

Melancholy and Depression Portrait

***

Barangkali, kalaupun ada yang bisa dikatakan telah mulai hilang belakangan ini, saya akan memilih “rasa takut”. Atau bisa dikatakan begini, manusia diajarkan untuk membenci ketakutan. Seakan-akan ketika ketakutan datang dan kemudian dibahas, maka orang yang membahas hal itu menjadi lemah.

Ketakutan, secara perlahan menjelma sesuatu yang menjijikkan; sesuatu yang harus dipangkas hingga serendah mungkin. Maka tak heran, setiap kali masalah datang sabda ampuh berbunyi, “move on!” langsung menggema; Alih-alih memunculkan keinginan untuk merenungi kembali atas ketakutan yang ada tersebut. Di saat yang sama, Saya pun tak sepenuhnya mengingkari perihal “move on” ini. Meski  tak pernah menganggap “move on” ini sebagai barang baru, apatah lagi sebagai solusi mutakhir. Bagi saya, manusia adalah makhluk yang tanpa harus bergerak pun; tanpa harus mencoba berubah pun, akan menjadi makhluk yang tak sama di setiap harinya. Maka,bergegas move on hanya untuk tidak perlu merasa takut bukanlah pilihan yang cemerlang. Ketakutan tidaklah pas untuk ditinggalkan begitu saja tanpa sempat merasakan sentuhan analisis dari otak manusia yang (katanya) sangat cerdas.

Sepertinya, ketakutan mulai diserupa-serupakan dengan acuan istilah lainnya seperti masa lalu, kenangan, dan mantan. Ketiganya ini untuk menanggapi istilah lainnya yaitu masa sekarang, impian, dan “yang sedang di sini”. Kelompok awal dianggap sebagai anti dari kelompok akhir. Dari segi nilainya, seperti yang dengan mudah kita jumpai dalam pelbagai tulisan, mantan itu dianggap tak ada baik-baiknya, kenangan itu dianggap bersifat menjebak, dan masa lalu itu dianggap sebagai kesalahan.

Saya cukup yakin, akan ada yang membantah ini. Sebelum itu terjadi, baik juga saya katakan bahwa memang ini bukanlah untuk setiap manusia, namun kebanyakan saja. Toh, walau bagaimanapun ada lagu berjudul “mantan terindah”, “kenangan terindah”, dan “masa lalu terindah”. Namun, bukankah pernyataan “buanglah mantan pada tempatnya!”, “sudah jadi kenangan, Pak!”, atau, “Itu kan masa lalu, Bro!” lebih sering disimak? Lebih menarik perhatian? Lebih menjual? lebih digemari?

Ketakutan, juga mulai dinarasikan dengan irama serupa. “Ah, itu kan ketakutanmu saja!”, “Jangan kayak ketakutan begitu lah!”, “Ah, dasar penakut kamu!”, “Singkirkan jauh-jauh rasa takutmu!” dan banyak lagi kalau mau dicari.

Akan tetapi seringkah manusia berpikir dan mempertanyajan bagian mana dari ketakutan itu yang pantas dianggap buruk? Atau bagian mana dari sesuatu yang tepat untuk dianggap ketakutan. Saya teringat satu ungkapkan yang cukup terkenal,

“No one is afraid of heights, they’re afraid of falling down. No one is afraid of saying I love you, they’re afraid of the answer…”
– Kurt Cobain –

Jadi, sebelum masuk lebih jauh  ke dalam penghakiman atas ketakutan ini, ada baiknya pertanyaan ini diungkapkan, “Bagian mana dari sesuatu itu yang sebetulnya mengambil porsi ketakutan manusia?”

Jika kita menggunakan pernyataan terkenal di atas sebagai basis ketika seseorang menganggap dirinya atau dianggap takut untuk menyatakan cinta, maka apakah ketakutannya itu terhadap penyampaian cinta itu? atau, pada akibat penyampaian itu? atau takut pada kemungkinan jawaban yang buruk? atau takut pada hal ihwal cinta itu sendiri? Saya mulai membayangkan, andai ternyata ketakutan dalam menyatakan cinta itu ternyata sedemikian rumit bagi otak seorang manusia, tentu  ketakutan tidak mungkin merupakan hal yang remeh sebagaimana seseorang bisa menyeka bibirnya dengan sehelai tissu selepas menyantap rendang.

Tapi apapun itu, ternyata dalam perkembangannya terkhusus masa belakangan ini, rasa takut atau ketakutan telah didakwa sedemikian bersalah. Ketakutan (silahkan ketik di mesin pencari anda kata kunci berikut ini, “rasa takut quotes”) dianggap sebagai tersangka semi-tunggal yang menghambat kegagalan. Tentu ada dalih penambahan kata-kata seperti berlebihan, ketakutan negatif, ketakutan yang tidak penting, dan bla bla bla. Intinya, ketakutan itu pasti kalah oleh  sesuatu yang disebut sebagai optimistik; ketakutan itu adalah penyebab optimistik tidak muncul; ketakutan itu akan pasti bisa dikuasai oleh keberanian; orang-orang yang sedang memiliki rasa takut akan pasti kalah dan silahkan diteruskan.

Untuk hal-hal di atas sebetulnya keberatan saya tak seserius yang mungkin dibayangkan. Sebelum kita merestui hubungan ketakutan dan keberanian sebagaimana hasil konsensus   sebagian besar orang, saya tertarik untuk memulai analisis dari bagaimana keduanya berkaitan dengan keyakinan pada diri manusia. Mengapa dalam hal keyakinan, keberanian tak begitu jumawa? Maksud saya, ketika seseorang dipandang berani, jumawa, atau “bagak” dalam bahasa kampung saya, relasi yang hadir tidak benar-benar efektif dengan keyakinan. Tentu yang saya maksud adalah keyakinan yang benar. Sudah terlampau sering manusia menonton seseorang, atau sekelompok orang atau keadaan yang tampil secara jumawa atas satu macam keyakinan, namun ternyata kopong.

Hubungan ketakutan-keberanian dengan keyakinan tentu saja menarik untuk dibahas. Secara teologis, keyakinan atau mungkin sudah bisa disebut dengan keimanan itu lebih dekat kepada ketakutan dibandingkan keberanian. Ringkasnya begini, untuk mengimani Tuhan, maka dasarnya adalah ketakutan atau dalam bahasa Islam, takwa. Istilah ini—yang memiliki level yang sama dengan kata “takut” dalam bahasa Indonesia—bermakna menjauhi atau menghindari atau agar lebih mudahnya menakuti.  Jika ditelusuri, kata takut dalam hal keimanan ini justru berada pada tempat elit dan mewah. Coba bayangkan bagaimana nilai dari perintah untuk takut kepada orang tua, apakah hal itu merupakan perbuatan tak baik? Atau Takut kepada guru, apakah ini adalah perbuatan tercela? Atau Takut pada pemimpin, apakah perkara ini adalah tabiat buruk? Atau Takut pada ulama atau pendeta, apakah berarti manusia melakukannya sebagai sesuatu yang rendah?

Saya hanya mencoba menunjukkan bahwa ketakutan itu bisa saja menjadi sangat relatif. Sehingga, wajar dan merupakan hal yang baik untuk tetap merasa takut terhadap sesuatu yang mungkin saja membahayakan diri atau jiwa. Jika ada yang bertanya, apa indikatornya? Saya akan menjawabnya dengan perhatikanlah, renungkanlah, telisiklah atas apa yang diklaim sebagai ketakutan itu! Karena pada dasarnya setiap pilihan yang ditakuti manusia itu memiliki garis batas. Manusia, semestinya memerhatikan garis batas itu dan takut untuk melewatinya. Masalahnya adalah manusia mulai merasa tidak perlu untuk takut, belakangan ini.

Untuk menemukan pemantik atau akar dari masalah ini, tentu saja banyak cara dan dengan demikian juga akan terlalu banyak pilihan dan kemungkinan. Belum lagi mungkin waktu yang jelas akan dibutuhkan untuk membangun satu kelompok konsensus untuk mengafirmasi bagian apa yang laik dijadikan sebab. Untuk itu, ijinkan saya menyampaikan satu gagasan atau boleh dikatakan sebagai tawaran strategis. Sebelumnya saya akan mengutip teori mekanisme pelatuk yang pernah diungkapkan oleh Van Peursen mengenai perubahan kebudayaan atau dalam skala terkecilnya perubahan keadaan. Peursen tentu saja menggunakan teori itu untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan yang tidak baik akan bisa digantikan oleh keadaan baru yang lebih baik.

Saya akan mengajak anda untuk bermain imajinasi untuk sejenak. Bayangkanlah suasana sebuah gempa bumi besar terjadi dan di dalam sebuah gedung seluruh orang panik. Dalam mekanisme pelatuk yang disampaikan oleh Peursen, keadaan ini hanya membutuhkan satu orang yang tidak panik atau mencoba untuk tidak panik sehingga bisa memicu jalan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa. Secara runut, keadaan gempa adalah tren yang sedang berlaku dan batasannya adalah titik-titik kepanikan. Keberadaan seseorang penghuni gedung yang tidak panik adalah pemegang potensi pelatuk. Dialah yang akan menciptakan satu tren baru yang mengubah keadaan gempa bumi menjadi sesuatu yang harus segera dihadapi dengan cara apapun. Tapal batas kepanikan akan dilewati berdasarkan mekanisme pelatuk yang akan dijalankan oleh orang yang tak panik tersebut. Hingga kemudian setiap orang di dalam gedung itu bisa berhasil menuju keadaan yang tak lagi berada dalam lingkup gempa bumi. Sehingga, pelatuk yang akan ditarik itu belum bisa dinyatakan berhasil menggerakkan apapun hingga keadaan yang berbeda telah menjadi benar-benar jelas.

Ketakutan, dalam hal ini sama dengan gempa bumi sebagai sebuah keadaan tertentu. Sementara itu sebagai penyeimbang atas kepanikan kita bisa ambil salah satu titik bernama kemestian “move on”. Sebagaimana yang telah diketahui, agen-agen untuk menjelaskan dan mengampanyekan kemestian “move on”  ini jumlahnya telah terlampau banyak. Dengan kata lain, secara potensial untuk berada di bilik yang berbeda dari ruang ketakutan menjadi sangat mungkin. Sayangnya, ruang ketakutan yang hendak ditinggalkan oleh banyak orang itu belum layak untuk dikatakan sama dengan keadaan sebagaiamana gempa bumi tadi. Tidak tentang potensi keburukan yang akan muncul, tidak pula mengenai dimensi aksiologisnya, apatah lagi mengenai kondisi asaliah dari ketakutan itu sendiri, terutama dari kajian keimanan religius. Potensi kehilangan nyawa yang ada di dalam keadaan gempa bumi membutuhkan setiap orang untuk melintasi batas. Tujuannya tentu saja untuk menyelamatkan diri atau menghindari kondisi yang jelas akan lebih buruk. Sementara itu, ketakutan sebagaimana yang telah dibahas cukup panjang di atas tidak memiliki kepastian mengenai adanya kondisi buruk yang menanti. Yang baru ada hanyalah dugaan-dugaan akan terjadi sesuatu yang buruk jika manusia merasa takut, itu saja. Belum lagi ditambah dengan fakta bahwa atas apa yang disebut ketakutan itu sendiri ternyata tidak menunjuk kepada sebuah kondisi yang pasti. Lalu bagaimana?

Mekanisme pelatuk yang disampaikan oleh Peursen pada dasarnya bisa digunakan di dalam memandang hal ini. Bahwa, kondisi yang menakutkan itu tak pernah berhasil disepakati oleh seluruh manusia. Peursen, kali ini mengutip pandangan Levinas mengenai proses untuk melepaskan selubung penderitaan dari kemanusiaan. Levinas mengatakan bahwa satu-satunya cara adalah dengan menghadirkan penderitaan pada setiap wajah manusia itu sendiri. Dengan kata lain, sesuatu harus menjadi konkrit dan disepakati secara bersama-sama atau bahkan kalau bisa dirasakan oleh semua orang agar bisa diubah.

Saya meyakinkan anda bahwa ketakutan bukanlah sesuatu yang harus diubah, setidaknya bukan di dekade ini. Bahwa sudah ada yang terlanjur merasa untuk selalu move on dari apapun yang diklaimnya sebagai ketakutan atau hal yang menakutkan, itu juga fakta. Namun, simulasi paling jernih bisa tampak di masa seperti ini; di masa pandemi ini. Keinginan untuk sesegera mungkin untuk meninggalkan sesuatu yang dianggap menakutkan ternyata sama sekali terbukti tak efektif. Semestinya, ketika ketakutan dianggap sebagai keadaan yang buruk atau berbahaya maka efektivitas atau kepastian dari akibat adalah sesuatu yang harus terjadi. Dalam bahasa sederhananya, ketika anda merasa berada dalam kondisi yang buruk maka secara natural anda akan menginginkan sesuatu yang baik, tidak sesuatu yang separuh baik atau malah semu.

Kita coba untuk kembali sejenak kepada keadaan gempa bumi sebelumnya. Ketika gempa bumi berhasil membuat setiap korbannya merasakan penderitaan, maka kepanikan yang ada harus dilangkahi agar keadaan bisa berubah menjadi tak lagi berpenderitaan. Ketika keadaan tadi sudah berubah, dalam artian batas kepanikan telah berhasil dilewati maka seluruh hal menjadi telah boleh dikatakan sebagai keadaan yang lebih baik. Sekarang, mari kita lihat kondisi yang muncul atas pandemi. Anggap saja batas move on itu telah berhasil dilewati oleh semua orang sehingga kondisi ketakutan tadi telah berhasil berubah. Sekali lagi saya ulang, anggaplah demikian. Lalu bagaimana keadaan saat ini? Jika anda mengatakan bahwa pandemi belum juga berakhir, maka saya akan mengacungkan ibu jari saya. Betul, pandemi juga belum berakhir, maka bukankah dengan demikian berarti ketakutan itu seharusnya masih tetap? Move on tidak bisa disebut telah berhasil atau telah dilakukan jika akar kondisi sebelumnya itu itu tidak berhasil berubah, bukan?

Dalam kasus pandemi ini, ketakutan atas virus Covid-19 bukanlah sesuatu yang absurd. Jika memakai teori Levinas di atas, maka Covid-19 adalah kondisi medis, psikologis dan ekonomis yang telah bertengger di depan mata semua orang. Apakah semua orang takut dengan Corona? Saya yakin jawabannya adalah iya. Silahkan saja pilih dasar ketakutannya, apakah medis, psikologis, ekonomis, atau bahkan politis. Lalu, apakah semua orang merasa ingin move on dari kondisi yang menakutkan ini? Saya akan memilihkan jawaban yang bersifat khayaliah dengan,Iya. Anggap saja semua yang membaca tulisan ini adalah sebagian orang  yang menyukai konsepsi move on dari segala jenis ketakutan adalah keharusan. Lalu bagaimana kita (termasuk saya) akan menjelaskan kenyataan yang tampak saling bertentangan di lapangan untuk saat ini?

Disebabkan oleh rasa takut, pada mulanya sebagian orang menghabiskan waktu dengan mengisolasi total dirinya di dalam rumah. Sebagian yang lain memilih untuk terus mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagian yang lain sibuk memperhitungkan berapa laba yang akan jauh berkurang dari bisnisnya. Sebagian  yang lain bahkan sibuk menyatakan bahwa wabah ini tidak ada apa-apanya dan hanya permainan media dan politisi. Lalu, terjadilah resesi ekonomi dan segala jenis anggaran terpaksa dialihkan untuk menyudahi efek dari pandemi. Seketika muncullah kampanye untuk move on dari rasa takut terhadap wabah. Semua tabir yang sempat ditutup dengan sangat erat secara perlahan dibuka dan teriakan move on melalui irama “kenormalan yang baru” diteriakkan dimana-mana. Lalu muncullah tren baru, dengan berbekalkan kain atau kertas atau karet tipis di depan muka, setiap orang mulai merasa aman untuk kembali berjalan. Ada yang mulai bertamasya, ada yang mulai giat bekerja, ada yang mulai kembali berkarya, dan ada yang masih meringkuk di rumah karena merasa lebih baik tak percaya pada kenormalan model baru ini.

Saya tidak sedang menjudge pandangan mana yang benar atau salah. Fokus saya masih tentang ketakutan yang selalu dipandang sebagai sesuatu yang salah. Jika betul ketakutan adalah sesuatu yang harus ditinggalkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, maka bagian mana yang harus ditinggalkan? Dan jika dirasa telah berhasil untuk dikalahkan, maka bagaimana bentuk dari keadaan yang hadir tanpa rasa takut itu? Apakah tanpa adanya rasa takut itu keyakinan atau keimanan selalu bisa digenggam? Apakah ketakutan itu memang selalu menuntut manusia untuk menihilkannya? Apakah ketakutan itu memang seperti kulit berduri dari durian yang harus dikupas dengan teknik mana saja untuk bisa mengakses daging buahnya yang lezat? atau jangan-jangan ketakutan itu ternyata bukanlah sebuah keadaan, bukanlah sebuah kondisi, bukanlah sebuah status?

Pertanyaan terakhir di paragraf sebelumnya adalah inti gagasan yang ingin saya tawarkan kepada anda semua. Ketakutan itu bukanlah keadaan, kondisi, kategori, ataupun status. Sehingga dengan demikian, ketakutan tak akan pernah bisa disamakan dengan kondisi penderitaan para korban gempa bumi, atau status kemiskinan yang masih disandang oleh sebagian besar saudara-saudara kita, atau kategori bagi dasar hitungan statistik yang biasa digunakan untuk membuat rencana pembangunan negara. Ketakutan itu adalah salah satu watak awal yang dibebankan kepada manusia oleh Tuhan dan selalu bisa digunakan kembali sebagai pengingat. Tak heran kemudian kata-kata seperti takutilah, jauhilah, ingatlah, menjadi sangat efektif untuk digunakan agar perilaku maksiat urung dilakukan. Ketika dalil agama menggunakan kelompok kata-kata tersebut, maka seorang manusia sebetulnya sedang diminta untuk mengingat anugerah watak bernama ketakutan itu sebagai pemberian Tuhan. Agar setiap yang mendengarnya kembali melihat ke bawah, ke arah garis batas yang mungkin saja kabur namun sebetulnya selalu berada di sana. Untuk tidak melangkahi itu, untuk kembali merenung, untuk kembali meresapi bagaimana hal ketakutan itu bisa muncul dalam kehidupannya.

Dan, andai setiap manusia menyadari ketakutannya sebagai penahan otomatis kehendak diri karena pada dasarnya memang terpaut di dalam nurani, tentu kehidupan tidak akan seribet ini. Bagis kasus pandemi ini, andai ketakutan dipercayai sebagai sesuatu anugerah, mudah saja tentunya saya membayangkan tak mesti banyak para petugas medis yang kehilangan nyawa, tak perlu banyak orang-orang yang frustasi karena kehilangan pekerjaan, tak harus juga dana-dana pendidikan dan sokongan bagi fakir-miskin teralihkan berpuluh persen untuk membangun infrastruktur dan membiayai tim-tim penanggulangan wabah yang semakin banyak bentuknya. Dalam wilayah yang lebih luas, maka ketakutan ini tentu bisa juga membuat orang-orang untuk tidak lagi korupsi, membunuh, memperkosa, menipu,  berselingkuh, atau merampas hak-hak baik dari yang empunya.

***

Karena batas antara yang baik dan buruk itu selalu ada dan tampak dengan jelas. Manusia saja yang sering menunda-nunda terangnya itu dengan sibuk membolak-balik filter agar celah-celah yang tidak memenuhi nafsunya bisa tertutupi. Dan di dalam perkara baik dan buruk ini, ketakutan bukanlah salah satu filter itu, bukan pula tool lain dengan fungsi yang berbeda. Ketakutan adalah awal yang menggenggam nurani manusia, untuk kemudian secara perlahan-lahan, lambat-lambat menunjukkan bagaimana kebenaran itu telah terang semenjak awal hingga akhir masa. Tersebabkan ketakutan akan sangat bisa menjadi penyelamat atas pilihan-pilihan buruk yang bisa saja diambil manusia, maka jangan pernah  meremehkan ketakutan, menghinanya, atau bahkan membencinya. Karena tanpa kacamata bernama ketakutan batas menuju keburukan bisa saja berkabut tebal karena ditimpa kewajiban bernama move on. (AAP)

Andri Azis
Latest posts by Andri Azis (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *