Skip to main content

Yang Asing, Yang Hangat, Yang…

Dimuat di Jawa Pos, 28 Februari 2021

 

Ethile! Ethile! novel perjalanan yang tidak ditulis dengan pendekatan turisme. Di tanah orang, kita tetap manusia, bukan turis (halaman 305).

SETELAH The Alchemist dan Aleph-nya Coelho, The Geography of Bliss-nya Eric Weiner, The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared-nya Jonas Jonasson, menemukan novel perjalanan yang menarik hari ini adalah berburu falafel lezat di jalanan Kairo: melelahkan, tapi dengan kepuasan setimpal bila berjumpa.

Awal tahun ini, Benny Arnas membukanya dengan merilis buku ke-25 dan menjadi novel –bergenre– perjalanan debutnya di bawah tajuk Ethile! Ethile!. Sebagaimana pemilihan judul yang terdengar asing, novel ini adalah genre asing dalam semesta karya si penulis. Pilihan ini jauh berbeda dengan novel-novelnya, seperti Tanjung Luka yang thriller, Bersetia yang romantis, atau Curriculum Vitae yang absurd.

Melengkapi judulnya yang asing, Ethile! Ethile! menerakan nama-nama asing dalam kisahnya, seperti Cinque Terre, Hviezdolavovo, Traunkirchen, Nagykanizsa –sekadar menyebut beberapa tempat, dan orang-orang yang ditemui semisal Erica Y’Ongo di Versailles, Sommer di Blaichah, atau Marval di Traunkirchen.

Selanjutnya, keasingan ini bagai kabut yang meliputi petualangan, yang bukan hanya menghalangi pandangan, tapi juga menjadi rantai ketakterdugaan untuk Venn Nasution (35), penulis Indonesia asal Lubuklinggau pengidap gangguan tidur ketindihan yang mendapat grant perjalanan menulis di Eropa. Dibersamai Ethile Mathias, pemuda Austria 24 tahun yang dipercayai TCS (perusahaan perjalanan yang memberikan hibah perjalanan kepada Venn), semua itu menempatkan Venn dalam keterasingan.

Perjalanan Dua Lelaki

Meski berlatar 13 negara di Eropa plus Lubuklinggau, Ethile! Ethile! tampaknya ditulis tidak dengan pendekatan turisme. Novel ini sedari awal memang diplot tidak seinformatif The Bliss karya Eric Weiner tentang berbagai tempat dan budaya. Novel ini juga seperti enggan menjamu pembacanya dengan Eiffel, Pisa, Venisia, Red Square, seakan-akan si penulis memahami kemuakan (sebagian) pembaca Indonesia dengan kumpulan mo(nu)men turistik itu, sementara daya tarik yang lebih kuat dari tanah (orang) Eropa yang bersifat asaliah masih sangat banyak. Sebagaimana kehadiran (eksistensi) Ethile bagi kisah Venn yang tersirat dalam kutipan catatan perjalanannya berikut:

…Sepanjang perjalanan Ethile memuji-muji Slovenia. Bukan karena keindahan alam atau makanannya yang enak atau penduduknya yang ramah, melainkan gadis-gadisnya yang, dalam istilah Ethile, diciptakan Tuhan di pagi Minggu. ’’Ya, di pagi Minggu yang cerah di surga sana,” tambahnya dengan intonasi diangkuh-angkuhkan… (halaman 115).

Perjalanan dua lelaki yang berada dalam usia matang dengan banyak perbedaan (Venn dengan citra family man dan saleh dengan Ethile yang selengekan, tampan, dan suka ngelaba, tapi ateis) diplot dalam perjalanan berdua saja dari Eropa bagian barat, lalu ke timur, dan berakhir di selatan, adalah bahan konflik yang potensial diledakkan di mana dan kapan saja. Sebagai penulis, Benny Arnas tampaknya sadar akan potensi itu.

Tapi, ia seperti tidak bernafsu memanfaatkannya. Yang ada, Venn-Ethile justru berhasil ber-chemistry sehingga, tanpa sadar, mereka memperlakukan apa saja yang berkelindan di sepanjang perjalanan sebagai keasingan, sesuatu yang memang ada, namun tidak akan memorak-porandakan kehangatan. Aduh!

Bromansa yang Liyan

Ethile! Ethile! mengembangkan batas keasingan hingga ke belahan dunia lain dengan merelakan kaki dan tangan seorang Venn menjamahnya untuk pembaca. Batas yang tidak hanya berdiri secara fisik, namun juga eksotis-spiritual, yang barangkali enggan dimasuki oleh banyak orang. Atas pengorbanannya nan eskatologis itulah, novel ini menjadi arche perenungan. Bukan sekadar hadir sebagai keliyanan genre bromansa, tapi juga menegaskan bahwa: manusia tak pernah sepenuhnya mampu menghidupi kenyataan tanpa berdusta, untuk kemudian mengklaimnya sebagai keasingan, hanya agar menjadi sebuah kenyataan baru yang lebih indah.

Benny Arnas secara apik menyunting hasrat yang terbungkam di dalam relung manusia pada titik-titik yang memikat. Tidak pada awal, tak sepenuhnya di tengah, dan tidak pula di akhir.

Ia menyebarnya secara berserakan hingga akhirnya memantikkan kesadaran tentang rahasia yang sedang berputar-putar. Ethile! Ethile! adalah jurnal perjalanan tentang bertahan pada perasaan asing yang datang tanpa ketuk pintu, malu-malu mengakuinya, lalu pelan-pelan menepisnya ketika semuanya telah intim –telah menjadi kehangatan. (*)


  • Judul: Ethile! Ethile!
  • Penulis: Benny Arnas
  • Tebal: 416 halaman
  • Penerbit: Diva Press
  • Cetakan Pertama: 2021
  • ISBN: 9786232932319
Andri Azis
Latest posts by Andri Azis (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *