Skip to main content

Yang Asing, Yang Hangat, Yang…

Dimuat di Jawa Pos, 28 Februari 2021

 

Ethile! Ethile! novel perjalanan yang tidak ditulis dengan pendekatan turisme. Di tanah orang, kita tetap manusia, bukan turis (halaman 305).

SETELAH The Alchemist dan Aleph-nya Coelho, The Geography of Bliss-nya Eric Weiner, The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared-nya Jonas Jonasson, menemukan novel perjalanan yang menarik hari ini adalah berburu falafel lezat di jalanan Kairo: melelahkan, tapi dengan kepuasan setimpal bila berjumpa.

Awal tahun ini, Benny Arnas membukanya dengan merilis buku ke-25 dan menjadi novel –bergenre– perjalanan debutnya di bawah tajuk Ethile! Ethile!. Sebagaimana pemilihan judul yang terdengar asing, novel ini adalah genre asing dalam semesta karya si penulis. Pilihan ini jauh berbeda dengan novel-novelnya, seperti Tanjung Luka yang thriller, Bersetia yang romantis, atau Curriculum Vitae yang absurd.

Melengkapi judulnya yang asing, Ethile! Ethile! menerakan nama-nama asing dalam kisahnya, seperti Cinque Terre, Hviezdolavovo, Traunkirchen, Nagykanizsa –sekadar menyebut beberapa tempat, dan orang-orang yang ditemui semisal Erica Y’Ongo di Versailles, Sommer di Blaichah, atau Marval di Traunkirchen. Read More

Apa yang Perlu dan Tidak Perlu dalam Teks Fiksi dan Nonfiksi?

Oleh Benny Arnas

Photo by cottonbro from Pexels

William Zinsser dalam “On Writing Well” menulis bahwa kekacauan bahasa adalah muara dari kerumitan tulisan. Dalam bab Simplicity, ia menulis, “Kekacauan bahasa adalah penyakit dalam dunia tulis-menulis. Kita adalah masyarakat yang terombang-ambing dalam kata-kata tak perlu, susunan kalimat melingkar-lingkar, slogan-slogan tak bermakna dan embel-embel sombong.”

Read More